Limitations.

this is sooo energetic 🙂

The Weddington Adventures

Limitations.

Peace!….with 2 fingers;)

View original post

Advertisements

New Theme: Avid

OH MAN this is so cooooollll!!! i will use it for my photography blog soon XD how brilliant and beautiful 😀

The WordPress.com Blog

Looking for a new and exciting way to share your images with the world? Well, look no further! Avid is an innovative premium theme for photographers from The Theme Foundry. With a unique photoblog layout, beautiful gallery, and retina-optimized interface, Avid makes it easy to share all of your snapshots, photographs, and creative work.

Every detail of Avid is carefully crafted with photographers in mind. Avid gives you the power to quickly and easily showcase your images, galleries, videos, and blog posts in a beautiful, responsive layout. Read more about Avid in the Theme Showcase and then take it for a test spin by visiting the live demo.

Avid was designed by Dave Ruiz of Foundation Six.

View original post

Ratapan Sang Garuda

Kubuat puisi esai ini dengan sepenuh hati.
Kubuat atas dasar kecintaanku pada negara yang hebat ini, bangsa yang luar biasa ini,
serta para pemuda/i yang terlahir di atas tanahnya.
Tak peduli sebesar apapun keburukan yang menggerogoti negeriku sekarang,
aku akan terus menulis dan menulis.
Akan kukatakan pada dunia lewat tulisanku bahwa Indonesia masih tetap jaya dan akan terus berjaya.
Tak peduli sejauh apapun ketertinggalan masyarakatku, ataupun sebobrok apapun mental para pejabatku.
Aku, dengan kata- kataku, akan selalu berusaha mengubah diriku, keluargaku, lingkunganku, masyarakatku, negaraku, dan duniaku agar menjadi lebih baik dan akan terus menjadi semakin baik.
Bismillaahirrahmaanirrahiiiiiiiim…… Tiada daya dan upaya melainkan dengan kekuatan-Mu, Ya Allah…

Hiduplah Indonesia Raya

Lambang garuda di baki PPI Bogor dalam Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-67, 17 Agustus 2012 di Lapangan Sempur, Kota Bogor, Jawa Barat.

/1/

Enam puluh tujuh tahun sudah (1)
Selama itulah aku menemani negeri ini.
Tak pernah lepas dari cengkeramanku
Semboyan sakti Bhinneka Tunggal Ika.

Telah kulihat banyak hal sejak hari kelahiranku;
19 Februari 1950. (2)
Tanyakan apa saja padaku tentang negeri ini
Maka aku akan dengan senang hati menjawabnya.

Tahun pertama kelahiranku, tanah ini sedang bergejolak
Aku tak kuasa meredakan luapan semangat.
Banyak api berkobar, tekad yang membara saat itu
Inilah kami, wahai dunia, Bangsa Indonesia.

Aku, yang disebut Garuda, diagung- agungkan;
Betapa tidak, dulu Tuan Airlangga menunggangiku
Sebagai kendaraan sakti Sang Wishnu. (3)
Temui aku di buku- buku sejarah kalian, wahai anak muda.

Dan kini aku bebas, tak jadi tunggangan.
Namun tugas yang lebih berat telah menantiku;
Aku dipercaya menjaga semboyan keramat
Berbeda- beda tetapi tetap satu jua. (4)

/2/

Sungguh wahai kawan, aku mungkin semakin tua,
Tapi semakin banyak pula sejarah yang telah kulihat
Sejak zaman para pendahulumu hingga saat ini.
Akulah saksi semua peristiwa negeri ini.

Inilah kesaksianku;
Dulu bumi Indonesia bergejolak
Pribumi melawan penjajah, tak ada habisnya
Semua cara telah dicoba, semuanya!

Lalu kulihat para pemuda yang tak pantang menyerah,
Mereka berjuang, menentang, menerjang!
Sungguh semangat yang luar biasa;
Semangat membara untuk membela Ibu Pertiwi.

Hingga pada akhirnya tirani berhasil ditaklukkan,
Bendera merah putih dikibarkan,
Pekik merdeka diteriakkan,
Indonesia lebur dalam sukacita.

Kantor berita sangatlah sibuk saat itu
Menyebarkan berita negeri ini telah merdeka.
Dengarlah, wahai dunia;
Kami telah MERDEKA!

/3/

Tak ada yang luput dari ingatanku
Detil- detil perjuangan negeri ini untuk tumbuh.
Betapa terharunya melihat negeri ini;
merangkak, berjalan, lalu berlari!

Sungguh, wahai anak muda
Aku melihat semuanya, setiap peristiwa.
Indonesia yang berjuang sebagai negara baru,
Indonesia yang plural, besar, dan bersahaja.

Telah kulihat tangan- tangan kokoh
Yang telah membangun negeri ini;
Tangan- tangan para pemuda hebat
Yang rela memberikan hidupnya demi kejayaan bangsa.

Mereka yang tak takut fitnah, tak kenal lelah;
Lalu saat kematian membayang, mereka tak gentar!
Satu hal yang terukir dalam benak mereka;
Akan kuwariskan kemerdekaan ini pada anak- cucuku.

Mereka yang bertangan kokoh sungguhlah tegar;
Hati mereka tak ciut menghadapi dunia.
Bersatu- padu membalik tanah
Bertekad satu, untuk negeri yang lebih baik.

/4/

Enam puluh tujuh tahun tidaklah sebentar
Mungkin aku setua nenek atau kakek kalian.
Namun sungguh, wahai pemuda;
Jiwaku, tekadku akan selalu muda, berkobar- kobar!

Jika kau tahu perjuanganku menjaga negeri ini
Mungkin kau akan menangis.
Kau tak akan pernah membayangkan bagaimana rasanya
Menjadi seekor Garuda Pancasila.

Seluruh hidupku kuhabiskan untuk memperjuangkan negeri ini;
Menjadi lambang negara besar, Indonesia.
Indonesia adalah Garuda.
Garuda adalah Indonesia, tak terpisahkan.

Dunia akan mengenalmu jika kau meletakkanku di dadamu
Kemanapun dan kapanpun kau melangkah.
Oh, dia pemuda Indonesia! Lihat lambang Garuda di dadanya!
Begitu kata mereka.

Aku akan selalu menjagamu, wahai anak muda
Selama tekad membela tanah air membara di dadamu,
Selama kau masih mau berusaha membangun negeri ini,
Tak kenal lelah berjuang untuk rakyatmu, tanahmu!

/5/

Aku selalu terbang mengamati bumi di bawah cakarku;
Memerhatikan, mengawasi semuanya.
Aku tahu jenis orang- orang seperti apa kalian, wahai pemuda
Hanya dengan melihat kebiasaanmu, aku tahu kau, sungguh.

Sejak aku dilahirkan hingga sekarang
Tak ada pemuda tangguh yang menangis meratapi nasibnya,
Tak ada pemuda tangguh yang duduk diam di saat tanah bergetar,
Yang kutahu hanyalah pemuda tangguh yang terus berjuang, berusaha!

Tak adil rasanya jika kubandingkan kalian dengan para pendahulumu
Karena setiap generasi memiliki tantangan tersendiri.
Mereka hidup dan meneteskan keringat di zaman mereka,
Dan kini kau bekerja, berkorban, berjuang di zamanmu.

Satu kesamaan dari kalian adalah kalian terus berperang;
Pendahulumu berjuang dengan bambu runcing dan senjata api
Dan kau kini berjuang dengan akalmu, penamu, ilmumu.
Sungguh kalian telah memberikan pengorbanan besar untuk negeri ini.

Dadaku bergemuruh, wahai anak muda
Saat kalian memekikkan kata MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA!!!
Sungguh aku ingin menangis terharu;
Betapa kalian sangat mencintai dan memerjuangkan negeri ini.

/6/

Akan kuceritakan kepadamu sebuah rahasia kecil;
Saat aku menangis tersedu- sedu saat melihat kalian, para pemuda.
Sungguh tak kuasa aku menangis, sedih sekali
Melihat kebodohan pemuda saat ini.

Di satu sisi kulihat jiwa muda yang berjuang dengan peluh mengucur
Aku tahu tekad di hatinya, sungguh suci dan murni;
Ibu, Ayah, aku akan membahagiakanmu
Akan kubawa kalian keluar dari tempat kumuh ini!

Pemuda itu sungguh serba kekurangan;
Tinggal di rumah sesak bersama keluarganya,
Makan seadanya, bahkan sering tak makan,
Tidur pun kadang di gerobak sampah.

Namun sungguh, Ya Tuhan, jawablah doa pemuda itu
Tak henti- hentinya ia menyebut nama-Mu.
Menguatkan hati setiap hari, membantu mencari nafkah…
Hanya untuk bisa bersekolah, ya, bersekolah!

Di sisi lain kulihat pemuda lainnya, sungguh tak tahu diri.
Enyahlah pemuda yang menyia- nyiakan segalanya;
Hidup nyaman, makan enak, serba berkecukupan
Namun ia mengabaikan sekolahnya, terlena dengan semua kenikmatan.

/7/

Ya Tuhan, mengapa perjuangan pemuda- pemuda- Mu begitu berat
Semakin hari, semakin banyak pemuda kurang ajar;
Mengabaikan orang tua, begitu bersemangat mengejar dunia
Tak berpikir bahwa mereka akan hancur, ya, HANCUR!

Pemuda- pemuda- Mu yang berhati bersih dihadang oleh para biadab;
Mungkin itu berupa teman- teman mereka,
Dunia hiburan dan teknologi yang gemerlap,
Atau bahkan, ironis memang, oleh penyelenggara pendidikan!

Tak bisa dipungkiri, semakin hari, perjuangan mereka akan semakin hebat
Mengingat realita dunia ini semakin menggila, tak terbayangkan.
Pemuda miskin yang sangat ingin bersekolah jadi cadangan,
Kursi didahulukan untuk si kaya yang tak peduli pendidikan.

Tak bisa kubayangkan, wahai pemuda
Hal apa lagi yang akan kalian lakukan untuk negeri ini.
Ingatlah, kalian telah diwarisi kemerdekaan oleh para pendahulu
Yang menitipkan negara ini pada kalian.

Sangat sulit rasanya untuk berkata benar
Karena kebohongan dan kecurangan kini meraja.
Sangat sulit rasanya untuk berbuat baik
Karena manusia- manusia jahat kini berkuasa.

/8/

Aku bingung dengan zaman ini
Tradisi asli pribumi, adat, sopan santun, diabaikan.
Dan sebaliknya, tradisi baru dan tak sopan dijunjung tinggi- tinggi
Seolah itu akan berdampak baik untuk masa depanmu.

Lihat saja, berapa banyak pemuda yang tak peduli orang tua
Pergi seenaknya, pulang juga semaunya.
Rumah tak seperti tempat berlindung lagi
Karena mereka lebih nyaman di luar, bersama teman- teman.

Rasakan betapa pedihnya hati para pendahulumu, anak muda;
Mereka memberikan segalanya untuk negeri ini
UNTUKMU, karena negeri ini adalah milikmu seutuhnya.
Mereka memikirkan nasib kalian bahkan sebelum kalian ada!

Namun apa yang kalian lakukan sekarang?
Apakah tak terbesit ucapan terima kasih untuk para pendahulumu?
Buktikan rasa terima kasihmu, Nak;
Buktikan dengan perbuatan, karya nyata untuk negeri ini!

Kau bukanlah hal yang pantas untuk disia- siakan, wahai pemuda
Karena potensi dalam dirimu bagaikan naga;
Besar, kuat, disegani, dan bahkan menakutkan.
Kau dapat mengubah negeri yang besar ini dengan tanganmu sendiri, tak sadarkah kau?

/9/

Aku mungkin tak pantas untuk menasihatimu
Karena tugasku hanyalah untuk menjaga, bukan menasihati.
Namun aku peduli pada tanah ini, negeri ini;
Tanah kalian, negeri kalian.

Aku mungkin hanyalah makhluk tak nyata.
Bahkan mungkin banyak di antara kalian yang menyepelekan kehadiranku.
Namun aku, Garuda, akan selalu ada
Mengiringi setiap pemuda yang bersih hatinya, kuat tekadnya.

Sungguh betapa aku mencintai negeri ini, Indonesia;
Termasuk kalian, wahai pemuda,
Karena tanpa tangan- tangan kalian, negeri ini tak terawat
Teronggok menyedihkan.

Sebenarnya masih banyak hal yang ingin kuceritakan pada kalian,
Namun kurasa kalian sudah dewasa,
Kalian, para pemuda, semakin cerdas.
Kelak suatu hari kalian akan memahami hal- hal yang tak terucapkan dengan sendirinya.

Untuk saat ini mungkin hanya sampai di sini aku berbagi cerita
Tapi yakinlah, aku akan selalu ada dalam hati kalian, para pemuda pejuang.
Aku akan mengamati kalian dan negeri ini, selalu,
Karena aku adalah Garuda.

*****
(1) Puisi Esai ini selesai dibuat beberapa hari setelah Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke- 67, 17 Agustus 2012.
(2) Lambang Garuda yang kita kenal sekarang pertama kali digunakan secara resmi di Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat pada 19 Februari 1950. Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Lambang_Indonesia
(3) Garuda dikenal sebagai tunggangan Raja Airlangga, seorang Wishnu yang banyak disebut dalam sejarah Jawa dan Bali. Dalam banyak kisah Garuda melambangkan kebajikan, pengetahuan, kekuatan, keberanian, kesetiaan, dan disiplin. Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Lambang_Indonesia
(4) Semboyan Bhinneka Tunggal Ika memiliki arti “Berbeda- beda tetapi Tetap Satu Jua” dan dikutip dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular. Kata “bhinneka” berarti beraneka ragam atau berbeda-beda, kata “tunggal” berarti satu, kata “ika” berarti itu. Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan “Beraneka Satu Itu”, yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya tetap adalah satu kesatuan, bahwa di antara pusparagam bangsa Indonesia adalah satu kesatuan. Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Lambang_Indonesia

Traveler

TRAVEL. For me, this is an energetic, mysterious word.

What does this title lead us to? Hm, well, as usual, I will tell you my own sight about the travel. Or, in daily life, we often say it as “traveling” (e.g.: “Eh, taun baru ntar traveling yuk!”|”Wah, lu baru pulang traveling ya? Tampang lu dekil banget.”| etc. etc…).

Yes, as a YOUNGSTER, naturally we want more ADVENTURE. More ADRENALINE pump. More NEW PLACES. More NEW ATMOSPHERE. More NEW PEOPLE. More and more and more… ‘till we die.

But, it’s not only the youngsters who do travel. There are a lotta amazing people—the real travelers—who always go through road-to-road, town-to-town, country-to-country, mountain-to-mountain, and even they do travel in skies, deserts, and even deep sea for their whole life. It’s not because they don’t have any home, any family to stay with. It’s because traveling has became their nature call. They leave their “safe zone”, take a backpack and go outside, anywhere, any place in this huge world. A limitless world. Traveling means a real life for them.

Gambar

Fly to The Clear Sky

Flyin' High

“After all those wings will take you, up so high
So bid the forest floor goodbye, as you brace the wind and
Take to the sky…” | To The Sky – Owl City

Look above and you’ll see the unlimited God’s creation. The sky.

I always love when I see my good friend, Anggie Cyndia‘s sky photos. Yes, we do like watching the sky. Our sky where everything flies freely, the sky where we can see how big the universe is. The thing that can amazed every human whoo see it, make human realize how powerful Allah is with all of His Creation. We just dust in this big world.

Every time I desperate with all of my problems, I look above and those pain relieved. Especially when I had a trip to Dieng Plateau which located 2093 M above the sea surface, I was amazed with its sky. The morning, the afternoon, the evening, and even the night sky is so beautiful like a never- ending painting. When the night come, it’s like you can touch the sky and pick the stars there. I love it ❤

Here are some pictures taken at Dieng Plateau, caught on Tyo Sukma‘s DSLR.

Gran-sky

This’ the morning sky. The cloud is like a thin cotton.

 

Image

Image

Image

Image

sang petualang angkasa

This’ my senior, Mas Jangkung. He likes everything about the sky, the outer space, the galaxy, the aliens…

house-pine

Here it is my favorite photo! I looooveee the way that pine grows beside the house. So classic and beautiful ❤ I’ll paint it on my canvas someday and show it to my best friends :>

candi

Even this Indonesian Heritage Site is looked like a painting below the clear sky that day.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A New Family

ImageEveryone has a family.

When I say “family”, I’m not only just talking about your relatives, but also about your friends, your club, and everybody who can make you feel comfort and welcomed. It’s not about which blood you have. And now I’m going to tell a story about what “family” means to me.

Do you see the picture above? Yes, they’re my New Family. You can see that we are very different each other, but if you know the relation among us, you will know that we are the family itself.

Last year, I met few of them when they were hunting photos in my town. The first impression is they’re soooo welcoming new guy. I appreciate that. The journey begun and I know things about them, so do they. We are united by a society and photography. My new life.

Days go by, and I realized that I have became part of them. An inseparable part. I always enjoy the way we gathering, exchanging information and stories, the laughs, the joys, the warmth. Even I am the youngest one, I’m not shame because I deem them as my friends, my family. My brothers and sisters. There’s not borders among us like senior- junior strict border. We just dissolved like ink in the water. We make our own solution 🙂

You see, the picture above was taken in a cold- beautiful place: Dieng Plateau. It was the last photo that taken before we went home after our amazing yet crazy trip. You don’t know how thankful I am because my parents permitted me to travel with them outta town. I am 17 and this is my first trip to Central Java without my parents. It’s sooo challenging me 😀 Bunch of love for Mom and Dad. You two always make me feel so thankful.

Now I let you know little about my new family. They are from Jakarta, Bandung, and Yogyakarta (it’s just a small piece of the bigger society!). I admit that I don’t know each name, because that was the first time I met society friends from Bandung and Yogyakarta. Okay, so I had Mas Ary Hartanto and Mbak Intan Permata Sari as travel friends. We travel from Jakarta- Dieng together. We talk a lotta things along the road. When I’ve arrived in a cozy home stay in Dieng, I had Mas Fachry Prayasi, Mas Aditya Wardana, and Mas Tyo Sukma from Bandung. They spent a dawn–a super-cold dawn–in Dieng without any comfort place to sleep. How strong! o_o The next day, I had Mas Opiq from Jakarta, Mas Muhammad Fadhurahman and his friend Mas Randy from Bandung. I also had Mbak Ken who booked the home stay, Mas Irham, Mas Ngaliman, and other friends from Yogyakarta. They traveled through Yogya-Dieng with motorcycle, fighting the super-cold weather. Big applause!

When I went back from Dieng, I missed them a lot. Those 2 nights were the most memorable coldest night I’ve ever had. If you want to know our activities in that Gods’ Abode, here they are some cool pictures taken by my new family from several sources 🙂
Enjoy!

ImageImage

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

The Afternoon

Image

P.S.: Thanks a lot, guys. You’ve filled this year become so unexpected and surprising time. Thank you for accepting me as your new member, I really really appreciate the way you guys welcoming me. Sorry for mistakes I’ve ever done to you all. Thank you for these sweet moments, Dieng. Good bye Dieng and see you guys on the top of the world! We can make everything possible together! Ganbarimashou!!!

Kiat Menulis Esai

sooo useful :)))

Mengenang Raden Saleh

Sudah mengirim naskahmu untuk kompetisi esai mengenang Raden Saleh? atau masih berusaha menyusun naskah sesuai tema?

Untuk memberi sedikit pencerahan, kami akan memberi sedikit kiat yang diambil dari berbagai sumber untuk membantumu mulai menulis, disimak ya!

1. Definisikan tema

Sebelum mulai menulis, pastikan untuk mengerti tema yang diberikan, lakukan pendalaman kemudian buatlah pertanyaan untuk mendefinisikan tema. Pastikan untuk memahami maksud dari pertanyaan dengan baik. Identifikasi kata-kata kunci  yang terkandung di dalam pertanyaan tersebut, lalu analisis apa kira-kira jawaban yang diinginkan oleh maksud pertanyaan tersebut.

2. Lakukan penelitian

Jika bisa, mulailah membaca untuk keperluan esai 4 sampai 5 minggu sebelum waktu pengumpulan. Ini akan
memberikan waktu yang cukup untuk mempelajari topik sekaligus mengembangkan argumen. Ingatlah
untuk membaca sesuai kebutuhan, tanya diri sendiri :
”Apakah bacaan ini bermanfaat bagi topik atau argumen saya?”
”Apakah ini dapat mendukung jawaban saya?”
”Apakah saya harus membaca hal-hal lainnya agar dapat menjawab pertanyaan dari esai?”

3. Mencatat

View original post 441 more words

Write Everything You Wanna Write

(This writing has no theme)

I don’t care even tough they said I’m weird, I’m fool, I’m silly

I’m just original me, I love laughing, I love sun,

And a little bit music to brighten my days.

Of course I love water. And books. And smiles of people.

And jokes. And imagination.

Like Einstein says, Imagination is more important than knowledge.

Well I have so much things to love.

And I don’t hate.

 

God loves us

So we have to love each other.

Love is the only thing you can’t buy in any other department store

It comes from a simple, precious, magical thing we have: heart.

Like Beatles said: All you need is love.

 

Things are good, don’t you know that?

Like Gaga said, ‘cause God makes no mistake.

You just need to see the bright side

Don’t need to see the dark side

Everyone has the bright side.

Everything has the bright side.

Every moment has the bright side.

Every tear has the bright side.

 

And when people make fun of me

Because of things they don’t understand

I say I don’t care

Well who cares?

I’m not kind of person who takes hard about what people say

’cause there’s another important thing

Do you know the price of success?

No BIG SALE for a success

No 70% OFF for a success

It’s not about what you say or what you think.

It’s all about what you do.

 

Thankfully, it’s pretty easy to get what you want

Just make a wish and do what you have to do, and voila!

It’s in front of you now

As long as you try

 

Prove it yourself 🙂